Carroline Ramli

Kenapa Denmark?

Hahaha … banyak pertanyaan yg diajukan ke saya, kenapa memilih Denmark, kenapa memilih topik ini. Saya bisa bilang, inilah yg namanya JODOH.

Sebelum lulus Master, prof. pembimbing Master saya bertanya, apa rencana saya selanjutnya. Saya bilang ke beliau, saya ingin stop ambil IT. CUKUP. Setelah lulus sidang, saya bilang ke beliau, saya tidak akan terusin PhD. CUKUP!!!

Beliau bilang ke saya, bahwa jika ingin ambil PhD, saya bisa lanjut bersama beliau. Untuk urusan beasiswa dia yg akan carikan. Saya tolak mentah2. Saya bilang CUKUP, besok saya balik ke Indonesia, dan tidak akan meneruskan lagi studi saya.

Ternyata, saya menelan ludah saya sendiri … hahaha … demi CINTA kuraih PhD.

Berhubung saya LDR dengan cowo yg tinggal di Eropa, jarak jauh dan perbedaan waktu juga kerasa banget, akhirnya saya cari2 cara bagaimana kembali lagi ke Eropa. Jalan paling gampang (bagi saya) yah, terusin PhD. Mulailah saya cari2 PhD.

Ada 3 tawaran PhD untuk saya.
1. Australia.
Dapet rekomendasi dari Prof. dari supervisor Master thesis saya.
Saya suka topik ini, Probabilitas. Prof. di Australia ini juga salah satu pionir di bidang saya, dia orang terkenal pula. Sayangnya, tidak ada beasiswa. Saya harus mencari beasiswa sendiri. Apalagi jarak Eropa – Australia yg lebih jauh daripada Eropa – Indonesia, membuat saya semakin berat untuk mengambil PhD ini.

2. Denmark
Iseng2 ada lowongan PhD di DTU (Denmark Technical University). Topiknya tentang Static Analysis and Discrete Model Checking. Saya suka yg namanya angka. Jadi, saya kirim email ke Prof. Fleeming (calon supervisor, yg buka lowongan PhD ini). Saya bilang, bahwa saya suka angka, saya pernah menjadi teaching assistant kelas Statistic dan saya sekarang adalah dosen Discrete Mathematics. Terdengar meyakinkan bukan, latar belakang saya sesuai dengan topik yg ditawarkan.

3. Luxembourg.
Topiknya ttg Argumentation. Sangat cocok dengan latar belakang Master saya.

Setelah saya kirim email ke Flemming, ternyata dia sangat antusias dengan aplikasi saya. Saya pun mendapatkan tawaran interview. Visa tidak dapat keluar dengan cepat. Interview pertama saya lewat Skype. Saya dikasih waktu 1 minggu untuk mempresentasikan paper yg mereka kasih. Jadi, ini paper mereka, dan saya harus menjelaskan ke mereka. Lumayan berat. Tapi, mereka kasih paper ke saya ttg Probabilitas, topik yg saya suka. Jadi, lancar jaya.

Lanjut interview ke 2. Saya mendapatkan undangan ke Denmark selama 1 minggu. Ternyata, di interview ke 2 ini saya menemukan bahwa STATIC Analysis is not the same as STATISTIC Analysis, dan DISCRETE Model Checking is not the same as DISCRETE Mathematics. Sangat jauh perbedaannya. Jederrrrr … pantasan saja saya dikasih waktu 1 minggu interview itu maksudnya untuk bikin PhD Project Plan, tentang apa yang ingin saya lakukan selama PhD. Di sini saya mencari tahu, apa yg research group lakukan dan apa yg sesuai dan ingin saya lakukan. Lumayan kaget juga, karena topik di group tidak sama dengan latar belakang saya. Dalam waktu 1 minggu ini, saya tanya kiri kanan, apa yg mereka lakukan, apa yg Prof. lakukan.

Ternyata, saat saya di Denmark, saya ada tawaran interview oleh Univ. Luxembourg. Mereka mau interview saya lewat Skype sehari setelah saya tiba di Indonesia, saya bilang, saya bakal balik dari Denmark, antara interview sekarang atau minta waktu 1 minggu lagi agar saya pulih jetlag. Ternyata mereka menawarkan interview langsung di Luxembourg. Jadilah, dalam waktu 2 minggu, saya interview di 2 universitas yg berbeda. Jujur saja, saya lebih senang di Univ. Luxembourg karena topik yg sesuai dengan bidang saya.

Sebelum saya balik ke Indonesia, saya sudah bilang ke Flemming, sepertinya topik yg ditawarkan berbeda dengan latar belakang saya. Saya tidak yakin untuk ambil PhD di dia. Saya butuh waktu untuk memikirkan kembali. Beliau juga setuju, dan beliau bilang, keputusan PhD saya menunggu keputusan DTU PhD School, bagian administrasi pihak DTU.

Selama waktu menunggu, saya berdoa, agar diberikan pilihan yg paling tepat. Saya bilang, yg pertama keluar pengumuman resmi, itu yg saya ambil. Ternyata DTU lebih cepat mengirimkan surat bahwa saya diterima PhD di sana. Saya masih ngotot ingin ambil PhD di Luxembourg. Saya hubungi Prof. yg di Luxembourg. Ternyata, saya nominasi kedua. Oleh karena itu, saya ambil keputusan untuk menerima tawaran DTU. Dua hari setelah menjawab IYA kepada DTU, saya mendapatkan email dari Univ. Luxembourg bahwa kandidat pertama menolak PhD yg ditawarkan, jadi, saya kandidat berikutnya untuk mendapatkan PhD tsb. Sayang sekali, saya sudah membuat keputusan. Jadi, JODOH saya di DTU.

PhD di DTU itu bukan hanya sekedar research saja. Banyak hal yg saya pelajari. Ini pengalaman saya:
– Management: PhD adalah one person project. Jadi, pintar saja tidak cukup untuk menyelesaikan PhD. PhD adalah proyek 3 tahun. Dalam 3 tahun ini, bagaimana kita merencanakan agar tujuan PhD kita tercapai, menggunakan metode apa, bagaimana prosesnya, bagaimana time schedulenya, dll.
– Teaching and Learning: PhD itu bukan sekedar jadi mahasiswa, duduk manis di kelas, dengerin dosen. Sebagai calon PhD, kita juga dituntut untuk dapat memberikan presentasi, bagaimana menjelaskan hasil riset kita agar orang lain mengerti. Di DTU, wajib mengambil Teaching and Learning. Lewat kelas ini, kita banyak belajar, bagaimana memberikan presentasi dengan baik.
– Employee: PhD itu merupakan jenjang karir. Di Denmark, PhD dianggap sebagai young researcher, bukan mahasiswa (student) lagi. Saya mendapatkan gaji, bukan beasiswa. Saya juga mendapatkan cuti tahunan (5 weeks normal holiday + 1 week special holiday), pensiun dan saya membayar PAJAK.
Kebetulan saya hamil sebelum menyelesaikan PhD saya. Sebagai employee, saya mendapatkan hak cuti hamil dan melahirkan.

Bagi rekan2 pelajar Indonesia yang ingin mengambil studi di Denmark, terutama PhD. Ini beberapa saran saya (yg wajib dipikirkan baik2 sebelum mengambil keputusan yah):
1. Topik dan supervisor. Selama paling tidak 3 tahun, engkau akan berkutat dengan topik dan prof. yang sama, itu lagi itu lagi, loe lagi loe lagi. Jadi, pikirkan baik2 apakah topiknya sesuai, apakah prof. nya cocok.
Pengalaman saya, walaupun prof. saya support saya luar biasa, tapi karena kita punya latar belakang yang berbeda, dia tidak terlalu mengerti apa yg saya kerjakan. Saya harus mencari support dari luar group. Saya sangat merasa kerja sendirian. Dan kerja sendirian itu butuh effort lebih untuk tetap termotivasi.
2. PhD is one person project. Itu lagi itu lagi, elo lagi elo lagi. Pastikan bahwa mengambil PhD itu memang keinginan sendiri. Anda punya motivasi yg kuat untuk tetap bertahan dan terus lanjut.
Pengalaman saya, motivasi PhD saya adalah mengejar cinta. Jadi, setelah saya menikah apalagi sudah punya anak, motivasi saya menyelesaikan PhD sudah berkurang jauh. Saya sudah mencapai tujuan saya … hehehe. Motivasi saya akhirnya adalah tanggung jawab saya untuk menyelesaikan proyek yg saya mulai.
3. PhD vs Kerja. Yakin kamu mau ambil PhD? Tidak mau kerja saja? Kelebihan title PhD adalah, engkau telah menghabiskan waktu yang begitu lama untuk menyelesaikan 1 topik saja. Kamu adalah orang yang persistent! Bisa jadi, lebih baik memulai karir, dan dalam waktu 3 tahun, karir kamu sudah melejit tinggi, daripada berkutat dengan topik yang sama selama 3 tahun. Bisa jadi juga, setelah lulus, kamu menjadi over-skilled with no experience … hehehe. Tapi jangan takut, banyak lulusan PhD yang tidak punya pengalaman kerja, bisa diterima di perusahaan besar kok 🙂 Beda lagi yah motivasi PhD itu karena jadi dosen, karena ini suatu keharusan.

PhD itu tidak gampang. PhD itu membosankan. PhD itu sendirian. Tapi, PhD itu jauh lebih gampang daripada ngurusin anak … hahahaha. PhD itu sangat menantang, banyak hal baru yang akan engkau temukan dan engkau ingin lebih dalam lagi menggali terus terus terus topik yang engkau tekuni. PhD itu full of hura-hura dan fun (serasa mahasiswa aja), makanya sering-sering ikutan konferensi, dapet jalan-jalan gratis deh … hehehehe. Dan PhD itu mengajarkan engkau kerja keras dan keras kepala.

Total saya menyelesaikan PhD adalah 5 tahun … hihihi … lama yah. Beneran mengerjakan PhD adalah 3 tahun 3 bln, sisanya, cuti hamil dan melahirkan (16 bln), fokus ngurus anak … hihihi.

Salam,
Carroline Ramli
PhD in Computer Science.
Ketua PPI tahun 2012-2013

Carroline